0
Dikirim pada 23 Juli 2009 di Buku

Suatu ketika Umar bin khatab tengah berpidato di depan kaum muslimin, waktu beliau dilantik sebagai Khalifah menggantikan Abu Bakar Ash-Shiddiq. Umar meminta kepada seluruh umat islam agar memabantu melancarkan roda pemerintahannya. Dalam pidatonya ia mengatakan : "Segala puji bagi Allah penguasa seluruh alam. Salam dan kesejahteraan semoga allah limpahkan atas panutan agung, MUhammad saw. pada kesempatan ini, aku ingin menyampaikan amanat kepada kamu sekalian, wahai kaum muslimin. kalian semua ibarat unta yang bertali. Untuk itu kalian pasti akan menurut saja kemana orang yang memegang tali itu. Aku akan membela kalian semua ke jalan yang benar yang diridhai Allah Swt. Oleh karena itu apabila kalian lihat bahwa aku melakukan kesalahan atau menyimpang dari perintah Allah dan rasul-Nya, maka luruskanlah".

Selesai berbicara, tiba-tiba berdirilah seorang laki" dan berkata: "Wahai Umar, aku bersumpah akan meluruskanmu dengan pedangku ini jika engkau menyimpang".

Mendengar kata" lelaki itu salah seorang sahabat dekat Umar berkata, "Wahai sahabat janganlah engkau berkata kasar kepada Khalifah"

Umar berkata, "Terima kasih, aku sangat senang kepadamu. Rupanya di antara rakyatku masih ada orang yang mempunyai keberanian. AKu patut memberi penghargaan kepadamu." Mendengar jawaban Umar laki" itu duduk kembali. Namun ia tetap memandang Umar dengan mata yang tajam.

Beberapa minggu setelah Umar menduduki kursi keKhalifahan, datanglah utusan dari panglima Sa’ad memeberitahukan sesuatu. Sang utusan mengucapkan salam dan dibalas oleh Umar. Umar mendahului bertanya, "Ada apa gerangan tampaknya engkau tergesa-gesa?" "Wahai Khalifah, kami memberitahukan bahwa panglima Sa’ad dan pasukan-nya sedang dalam perjalanan pulang dari medan perang dengan membawa kemenangan dan harta rampasan yang cukup banyak."

"Alhamdulillah. Lalu sampai di mana pasukan itu?" tanya Umar. "Mereka masih dalam perjalanan. diperkirakan besok akan segera tiba." jawab utusan itu. "Kalau begitu aku akan mempersiapkan penyambutan mereka." kata Umar.

Umar mempersiapkan acara penyambutan kedatangan mereka. Setelah segala persiapan telah selesai, keesokan harinya Umar mengumumkan kepada kaum muslimin untuk menyambut kedatangan tentara dengan suka cita dan kegembiraan sebagai penghargaan dan penghormatan kepada mereka. Dan benarlah pasukan itu datang di tengah mereka, mereka mengucapkan yel" seperti layaknya masyarakat mendukung pemimpinnya. "Hidup Sa’ad, hidup Sa’ad.." teriak mereka.

Mendapat sambutan yang meriah itu Sa’ad pun mengacungkan panji" pasukannya, sambil menunggang kuda. Setelah sampai di alun" panglima Sa’ad turun dan memberi hormat kepada Khalifah Umar bin Khattab. Keduanya berpelukan erat tanda keakraban dan persaudaraan. Umar menanyakan bagaimana keadaan pasukan kaum muslimin. Sa’ad menjawab, "Alhamdulillah, Allah telah memberikan kemenangan kepada kita." Lalu lanjutnya, "Wahai Khalifah, unta" itu membawa beban berisi harta rampasan perang."

"Alhamdulillah. Bagaimana rencanamu terhadap harta rampasan tersebut wahai Sa’ad?" tanya Khalifah. "Begini semua harta rampasan itu dimasukkan ke dalam gudang, terlebih dahulu lalu kita bicarakan nanti, kata Sa’ad. "Baiklah, aku setuju." Jawab khalifah. Maka seluruh harta rampasan itu disimpan di dalam gudang baitul mal.

Keesokan harinya, KHalifah Umar dan Sa’ad telah sepakat bahwa harta rampasan perang itu akan dibagi-bagikan kepada prajurit sesuai dengan tugas dan peran masing" dalam perang dengan seadil-adilnya. Setelah dibagi lima, dan seperlimanya disimpan di batiul mal sebagai kas negara. Umar memerintahkan kepada penjaga gudang, "Wahai penjaga gudang, keluarkanlah semua harta rampasan perang itu, akan kita bagi kepada yang berhak menerimanya!"

"baik barangkali Khalifah ingin memilih barang" yang disukai sebelum dibagikan? tanya penjaga gudang."Benar, barangkali ada sesuatu yang disukai", sahut yang lain. "karena tuan mempunyai wewenang khusus dalam hal ini."

"Tidak! Allah sangat membenci orang" yang suka menyelewengkan amanah. Bagikan harta rampasan perang itu dengan seadil-adilnya", perintah Umar.

"Siapa saja perlu diberi Khalifah?" tanya penjaga itu. "Semua prajurit yang ikut perang dan orang yang sangat membutuhkan" tegas Umar.

Beberapa hari kemudian, Umar mengumpulkan kaum muslimin di masjid untuk menyampaikan pesan. Sesaat setelah mereka berkumpul ia berpidato, "Saudara-saudara, hari ini saya akan menyampaikan rencana perjuangan kita selanjutnya, karena banyak sekali daerah" yang perlu kita sentuh dan menyampaikan Islam kepada mereka."

Salah seorang prajurit menyela, "Tunggu, wahai Khalifah Umar." "Ada apa?" tanya Umar. "Khalifah jangan hanya bicara dan memerintah saja!" tegas prajurit. "Memangnya kenapa?", tanya Khalifah Umar. " Seorang pemimpin memang bisa menutup mata, hanya mengetahui kesalahan orang lain, sementara kesalahan dirinya tidak disadari." tutur seorang prajurit.

"TUnjukkanlah kesalahanku itu!" pinta Khalifah Umar. "Bukankah kain yang dipakai Khalifah adalah dari bagia hasil rampasan perang? Aku menerima bagian kain itu hanya selembar kecil, tidak cukup untuk dibuat jubah."

"baiklah, saya terangkan di hadapan kalian semua, Bhawa jubah yang saya pakai ini memang hasil pembagian rampasan perang, tapi tidak cukup untuk dibuat jubah. Maka saya tambah dari kain bagian anak saya Abdullah. Sehingga, dapat dibuat jubah sebagaimana layaknya." jelas Khalifah

"Kalau begitu dugaanku ternyata salah. Aku mohon maaf, wahai Khalifah." pinta prajurit itu dengan penuh rasa penyesalan. "Ya, aku maafkan."

Salah seorang pemuka berkata, "Dia berbuat kurang ajar, waha Amirul mukminin. Hukum saja dia!"

"Tidak! Aku tidak serendah itu. Tindakan orang ini membuatku lebih mnyadari bahwa aku harus berhati-hati dalam menagmbil kebijakan." jelas Umar.

"Apakah Khalifah tidak akan memberikan hukuman kepada orang yang telah merendahkan martabat?" tanya salah seorang pemuka itu.

"Tidak! Justeru aku akan memberikan hadiah kepadanya", kata Khalifah Umar sambil menghampiri prajurit itu.

"Wahai Khalifah, maafkan aku," pinta prajurit itu sambil bersimpuh di hadapannya. "Berdirilah! AKu bukan yang layak kau sembah", kata Khalifah sambil merangkul prajurit.

"Oh,Khalifah engkau telah berbuat sesuatu yang mulia untukku." kata prajurit itu.

Semua orang merasa terharu, atas tindakan Khalifah Umar bin Khattab. Ia berhati emas, berbudi pekerti mulia. Meskipun ia telah dituduh berbuat curang, namun ia tetap tidak marah, tegar, dan sabar menghadapi itu semua. Umar adalah seorang pemimpin yang sangat bijaksana dan arif. Peristiwa itu ia jadikan sebagai pelajaran yang sangat berharga bagi dirinya.



Dikirim pada 23 Juli 2009 di Buku
comments powered by Disqus
Profile

Semua berawal dari bismillah............ More About me

Page
Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 143.545 kali


connect with ABATASA